Cara Menjadi Penjilat

Cara Menjadi Penjilat oleh Denny Mangala, Ditulis oleh Orang yang Sudah Terlalu Tua untuk Pura-Pura Bodoh. Saya sudah lima puluh tujuh tahun hidup di republik ini. Separuh umur saya habis di gedung y…
Cara Menjadi Penjilat

Cara Menjadi Penjilat

Cara Menjadi Penjilat oleh Denny Mangala, Ditulis oleh Orang yang Sudah Terlalu Tua untuk Pura-Pura Bodoh.


Saya sudah lima puluh tujuh tahun hidup di republik ini. Separuh umur saya habis di gedung yang dingin AC-nya, panas keputusannya, dan penuh manusia yang kalau berjalan selalu menunduk. Bukan karena sopan, tapi karena sedang mencari pantulan wajah atasan di lantai marmer.


Di tempat seperti ini, saya belajar bahwa ada dua jenis manusia. Yang bekerja, dan yang bertahan hidup. Yang pertama mengandalkan akal, yang kedua mengandalkan lidah. Yang pertama sering pulang dengan lelah, yang kedua sering pulang dengan senyum. Yang pertama sering disalahkan, yang kedua sering dianggap.


Menjadi penjilat, ternyata, adalah keterampilan. Ia bukan bakat, tapi pilihan hidup. Anda memilih berhenti berpikir terlalu keras agar tidak terlihat mengganggu. Anda memilih mengangguk lebih cepat daripada mengerti. Anda memilih mengatakan siap, Pak bahkan ketika yang siap sebenarnya adalah masalah di masa depan.


Saya pernah melihat sebuah rapat di mana angka-angka sudah jelas salah, jadwal sudah jelas mustahil, dan dampak sudah jelas akan menyengsarakan banyak orang. Tapi ruang itu penuh dengan orang yang mengangguk. Bukan karena setuju, tapi karena takut tidak setuju. Di situ saya sadar: kebijakan bisa lahir bukan dari nalar, tapi dari paduan suara pujian.


Di zaman saya muda, perbedaan pendapat itu disebut diskusi. Sekarang ia disebut “tidak satu visi”. Dulu kritik itu tanda peduli. Sekarang ia tanda tidak loyal. Bahasa berubah, tapi dampaknya sama: siapa pun yang masih nekat membawa logika akan dianggap sebagai gangguan sistem.


Penjilat tidak pernah bicara soal isi kebijakan. Ia bicara soal perasaan atasan. Ia tidak menilai program dari hasil, tapi dari siapa yang menandatangani. Ia tidak bertanya “ini untuk siapa”, tapi “ini dari siapa”. Ia bukan staf, bukan pejabat, tapi perpanjangan ego yang berjalan.


Yang paling menyedihkan, bukan bahwa mereka ada. Yang paling menyedihkan adalah bahwa sistem sering kali menyukai mereka. Mereka cepat naik, cepat dikenal, cepat dipanggil. Mereka membuat ruangan terasa nyaman, walau masa depan terasa mahal.


Dan ketika suatu hari kebijakan itu gagal, publik bertanya “siapa yang salah”, para penjilat sudah lebih dulu pindah meja, pindah jabatan, pindah senyum. Yang tertinggal hanyalah berkas, laporan, dan rakyat yang membayar.


Saya tidak menulis ini karena ingin jadi pahlawan. Saya menulis ini karena saya sudah terlalu tua untuk terus pura-pura bahwa semua ini normal. Di usia segini, saya cuma ingin satu hal kalau negara harus jatuh, jangan sampai jatuh karena kita lebih rajin memuji daripada berpikir.

OlderNewest

Post a Comment