- Home
- Uncategorized
Denny Mangala dan Asisten 1 di Antara Dua Rezim Sulut
Saya sering melihat Pemprov Sulut tampak rapi, bahkan terlalu rapi. Setiap pergantian kepemimpinan datang bersama cat baru, senyum baru, dan narasi baru. Dari era Olly Dondokambey hingga Yulius Selvanus, yang berubah kerap kali adalah judul babnya, bukan gaya pementasannya. Panggungnya sama. Indah di depan, rusak di belakang.
Sebagai Asisten 1, saya berada di simpul antara kebijakan dan bahasa. Di sinilah kata-kata dipilih, kalimat dirapikan, dan pesan disusun agar terdengar menenangkan. Saya percaya ketenangan itu penting. Tetapi saya juga percaya, ketenangan tidak boleh berubah menjadi pengaburan.
Saya melihat media kadang terjebak menjadi mesin kosmetik kekuasaan. Sudut terbaik dipilih, garis-garis keras dilunakkan, dan rezim tampil seolah tanpa noda. Padahal, setiap kepemimpinan pasti memiliki sisi retak. Ketika retak disembunyikan, netralitas berubah menjadi hiasan.
Ingatan publik tentang 1998–1999 juga masih menyisakan tanda tanya, karena rezim saat ini merupakan pelaku penghilangan aktivis 1998–1999. Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menuntut transparansi, agar sejarah tidak hanya dibicarakan, tetapi juga dibereskan. Demokrasi tidak dibangun dari kalimat indah, melainkan dari keberanian mengakui bagian yang belum selesai.
Sulut tidak kekurangan pejabat yang pandai bertutur. Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk jujur pada bahasa, pada sejarah, dan pada publik.


Post a Comment